judul ini ngasal. sama sekali ngga ada hubungan dengan substansi tulisan. saya buat judul begitu karena kata itu yang terlintas di jidat. postingan ini mengulas (cih, mengulas !) pengalaman saya membantu acara seminar OSSFEST 2009 di PT Inti beberapa waktu yl.
1. jadi orang jangan mudah panik.
panik! dan semuanya kacau. ceritanya, karena pengunjung membludak. saya cemas konsumsi kurang. khawatir ini makin trenyuh saat menyaksikan bagaimana coffee break ludes dalam hitungan detik.
saya bolak-balik menghitung nasi box yang sudah dipesan. saya catat dengan cermat berapa yang sudah dibagikan ke penjaga stand pameran, berapa satpam yang musti diberi makan siang, berapa “panitia” yang bekerja keras ikut bantu angkat-angkat barang, termasuk jatah buat mba2 customer service pt inti yang caem, dll.. kesimpulannya? wah, dengan peserta sebanyak ini, sediaan konsumsi ketat sekali. bisa-bisa ada yang ngga kebagian neh. malu dong.
sialnya, gara-gara panik, saya salah hitung! jumlah nasi box jadi minus 28 box! keruan saja saya bingung setengah mampus. down! kok iso, hilang kemana??
dan ternyata saya salah hitung! ihwalnya, ada tukang sound yang bersahaja dan baik hati menyadarkan klo saya salah hitung. setelah bersama menghitung ulang. “ooo, iya ya. salah”, kata saya sambil meringis malu-maluin. awalnya beliau merasa “aneh” melihat saya panik bertingkah aneh. akhirnya, ia merasa heran, “kok bisa ya, mahasiswaitbtingkatempatttt ga becus ngitung nasi box!!!”
2. no resistance, no judgment, & no attachment
perihal 3 NO ini mengemuka selama seminar open source dan saya dapatkan dari bos kuadrat, alias bos-nya atasan saya. menurut beliau, kehidupan yang penuh adalah the journey yang bisa menghantar manusia kepada tingkatan wisdom seperti disebutkan diatas.
pertama, no resistance. insan yang matang, menjalani kesehariannya tanpa penolakan. artinya, manusia ini akan terbuka terhadap hal baru, kemungkinan lain, pun adat yang asing. termasuk hal-hal yang ia tak setuju. dengan kata lain, kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. berusaha mengerti, bukan ingin dimengerti. asertif dan berpikir positif.
kedua, no judgment. ini prinsip utama dalam bermasyarakat. tak sedikit manusia dalam berhubungan dengan orang lain, mendahulukan judgment. ini tak produktif. nilai orang kita tentukan hanya pada apa yang “ingin” kita lihat.
“ah, dia cuma anak kampung. wah, dia bukan itb. yaelah wajar lha, bokap dia kan tajir!”, see..?
kemampuan inderawi manusia terbatas. ini yang menyebabkan judgment hampir pasti bertendensi negatif. dan anehnya, we live along with it. kita menjalani hidup diatas dasar yang salah itu.
ketiga, no attachment. ini sulit. tapi penting agar kita hidup dalam kebebasan yang sejati. bahagia yang hakiki. ketika hidup tak lagi terantuk pada kebendaan, pangkat, jabatan ato urusan-urusan duniawi (cih, duniawi!), kita telah membebaskan diri dari imaji semu kesenangan. we do nothing but our very best. no worry about what would [could] happen. life is just our very moment right here, right now but moving forward ;p
saya tulis ini sebagai ikhtiar diri tuk coba jalani hidup dengan benar dan baik. saya coba, walau tertatih, mencari jalan. looking my way to experience such inspiring and contented journey.
kristiono selamat berjuang!